Natsu no Ringo (Summer Apples)

Music: Yuki Kajiura
Lyrics: Yuki Kajiura
Arrangement: Yuki Kajiura
Vocals: Kalafina

hidden by the hedge of sunflowers
we swiftly kissed
it seems your cheeks
were surely very sweet

we chase a wild rabbit among the grass
with no one in sight
in a field that pretends not to recognize us
our shoes we kicked off marks our way

a summer where nothing happened
all we did was fall in love

the dancing crescent moon of the midsummer night
brings us the love we dream of
as i count the lemon colored stars
i place a kiss on your heart

the sound of the flute carries you away
in the wind heading towards the approaching autumn

the green apples that are too young
bear the taste of silver paper
you’ve taken it from a branch where pain ripens
and given it to me

we dream of a restless fish
it was an endless summer
my heart, the seasons, and the apples
forget to even change colors

the weathervane that is sensitive to the cold
sings “it will be fall very soon!”

on a midsummer night where the crescent moon sways
i remember our forgotten love
the petal of a dream
the chiming of the stars
i place a kiss on your heart

those summer’s innocent apples
will forever be the fruits within my heart

 

Kanji translations : missjasminnn/cantaperme.net

 

Tujuh Hari Mencari Cinta bagian 6

Alternate Universe
Bagian : Enam dari…
Pairing : Captain x White
NC-13

Rabu, White

Aku memang mengatakan kepadanya kalau aku akan menunggunya sampai selesai latihan, tapi aku tidak yakin apakah aku akan melakukannya atau tidak. Kulihat dia kembali terdiam memandangi taman di bawah jembatan. Kupandangi wajahnya yang menurutku terlihat lebih tampan kalau dari samping (a/n : kayak koin Romawi kuno gitu XD). Tiba-tiba angin berhembus lebih kencang, dan meniupkan sehelai daun yang kini tersangkut di rambutnya, yang sebenarnya tidak terlalu panjang kalau dibandingkan rambutku.

Tanganku terulur hendak menyingkirkan helai daun tersebut. Kalau tanganku sampai di rambutnya, itu berarti aku akan menyentuhnya kan? Apakah dia akan membiarkan aku menyentuh rambutnya? Baru saja aku hendak menarik kembali tanganku karena aku merasa tidak enak kalau menyentuhnya, dia menengok ke arahku. Membuatku kaget dan menghentikan gerakanku. Dia memandangku dan tanganku yang sudah terangkat dengan wajah yang terlihat bingung. Syiit. It’s so awkward.

TENG…TENG…TENG…

“Aaaaak…”, teriakku.
Wajah Captain yang bingung menjadi terlihat kaget mendengar teriakanku.
“Ada apa p’White?”, tanyanya.
“Siyal. Aku baru ingat kalau ada praktikum biologi di jam kelima. Syit, mana jas laboratorium dan buku praktikumku masih di kelas lagi”, aku berkata dengan cepat dan setengah panik. Panik karena jarak antara kelasku dan laboratorium lumayan jauh, dan aku pasti akan terlambat kalau harus kembali ke kelas dulu.

Melihat reaksiku yang seperti itu, Captain ikutan panik dan meminta maaf,
“Maaf p’White.”
Anak ini, untuk apa dia minta maaf. Ini kan, kesalahanku sendiri.
“Buat apa kamu minta maaf, ini salahku kok. Udah ya, aku balik duluan ke kelas”, aku berkata begitu sambil setengah berlari. Namun di pintu masuk gedung aku melihat Nino berdiri di sana, sudah memakai jas laboratorium. Tangan kanannya mengacungkan buku dan jas lab, yang sepertinya milikku. Sementara tangan kirinya memegang buku dan kotak alat tulis.

“Hey, White idiot! Cepetan, kita udah hampir telat tauk!”, teriak Nino setengah marah.
Aku berlari menghampiri Nino, dan setelah sampai di hadapannya,
“Nino…Nino…itu…itu…jas lab sama buku aku?”
Nino mendengus,
“Iya, siapa lagi. Nih.”
Aku pun spontan memeluknya, karena Nino sudah membawakan buku dan jas, aku tidak perlu berjalan jauh ke kelasku. Sambil memeluk Nino,
“Ninoooo… I love you. I love you so much!”
Nino hanya mengatakan,
“Iya…iya…kurang apa gue ini, cobak..”

Saking senangnya aku tidak sadar kalau Captain sudah berdiri di dekat kami berdua. Aku baru sadar setelah mendengar suaranya yang berkata,
“P’White…memeluk p’Nino itu artinya kamu selingkuh dari aku lho…”
Aku menoleh ke belakang dan melihat dia di sana dengan wajah yang serius dan menunjukkan rasa tidak suka. Aku segera melepaskan pelukanku dari Nino.
“Selingkuh?”, Nino bertanya sambil memandangku.
“Ah iya. Sorry, Captain. Kurasa selingkuh memang bukan hal yang bagus”, aku berkata dengan panik sambil memandang Captain.

Nino yang bingung terus memandangku,
“Apa sih, maksudnya selingkuh? White?”
“Nggak…bukan apa-apa kok. Ayok, kita cabut ke lab. Cepetan, Nin…”
“Iya..iya.. Tsk, kalau bukan karena elo temen deket, nggak bakal gue mau nganterin kayak gini.”
“Sori…sori…Makasih ya, Nino yang baiiik…”
Aku dan Nino pun berjalan menuju ke laboratorium.

***

Bel jam terakhir sudah berbunyi. Sambil membereskan buku aku memutuskan untuk menunggu Captain sampai dia selesai latihan. Aku mengirim sms kepadanya,

“Aku tunggu di taman dekat sekolah. Yang di atas bukit. See you!”

Lalu di sinilah aku duduk menunggunya. Di taman yang terkenal dengan pemandangan ke arah kota yang cantik, karena letaknya yang berada di atas sebuah bukit kecil. Kekurangan taman ini hanya satu, isinya orang pacaran semua. Aku memperhatikan sekelilingku. Beneran kan? Sore-sore begini, mulai deh. Semua yang jalan-jalan ke sini, adalah pasangan-pasangan yang sedang dimabuk cinta.

Aku menoleh ke sebelah kananku, pasangan yang di sana sedang asyik mengobrol sambil berpegangan tangan. Lalu ke sebelah kiriku. Syit, mereka ciuman? Di sana juga ada sepasang cowok yang sedang saling menyuapi es krim. Huft. Mereka semua seperti mengejekku, menggodaku karena aku menunggu sendirian di sini. Yah, salah aku sendiri juga, kenapa menunggu dia di tempat seperti ini. Aku pun menyandarkan punggungku di kursi taman tempatku duduk dan memejamkan mataku. Tiba-tiba,
“P’White…” sebuah suara yang lembut memanggilku.

Aku menoleh dan melihat Captain sudah berada di sampingku. Kapan dia sampai? Berarti tadi aku tertidur dong, sampai tidak menyadari kedatangannya.
“Akhirnya kamu sampai juga”, kataku.
Dia tertawa,
“Maaf, p’White. P’ sudah lama ya, menunggu di sini?”
Aku berdiri dari dudukku,
“Lumayan lama juga. Gimana latihannya? Kamu pasti dipuji Mr. Rainer lagi ya?”
Dia menggosok-gosok hidungnya sambil tersenyum kecut,
“Nggak juga. Aku merasa aku malah kayak dikerjain. Disuruh sana-sini, ngambil bola atau ngambil minuman.”
Aku tersenyum mendengar keluhannya,
“Habisnya kamu jarang latihan sih. Sekalinya dateng, dikerjain deh. Ayo, kita pergi dari sini.”

Kami pun lalu meninggalkan tempat dudukku dan berjalan menuju ke ujung taman, yang juga merupakan puncak bukit ini. Aku bersandar di pagar sambil memandangi kota yang terlihat sangat cantik dari atas sini.
“Aku sudah lama sekali tidak main ke sini. Ternyata masih sama kayak dulu, banyak orang pacaran”, kataku sambil melihat ke arah sepasang kekasih yang sedang saling pandang dengan mesra. Baru setelah itu aku menyadari sesuatu,
“Oh! Kita kan, pacaran juga ya? Ya kan, Captain?”
Captain tertawa mendengar perkataanku,
“Yup. Kita juga pacaran.”
Aku pun ikut tertawa.

Matahari hampir terbenam di ujung sana, menambah kecantikan kota di sore hari. Aku menoleh ke Captain. Dia tampak sedang menikmati pemandangan di bawah sana. Di bibirnya tersungging seulas senyum. Pikirku, dia pasti menyukai tempat ini.
“Hey, Captain. Gimana kalau kita sering-sering main ke tempat kayak gini?”
Dia hanya diam, tidak menjawab pertanyaanku. Dan senyuman yang tadi tampak di wajahnya menghilang. Apa aku salah mengajukan pertanyaan tadi ya? Aku pun kembali melihat ke bawah. Dia diam cukup lama sampai akhirnya,
“Hmmm…ada orang yang suka dengan tempat ini, ada juga yang nggak lho, p’. Aku sendiri, nggak suka. Kalau sesekali bolehlah. Terlalu sering, jangan.”
Aku hanya mengangguk mendengarnya.

Tiba-tiba pandanganku tersita oleh sepasang kekasih yang baru tiba di tempat ini. Ha? Mereka langsung berciuman? Apa tempat ini sebegitu menariknya untuk ciuman? Memang iya sih. Rasanya romantis sekali bisa berciuman dengan pemandangan kota yang indah dilatari matahari yang terbenam di sana. Ah, aku juga ingin melakukan hal itu. Iya, ciuman. Sudah lama sekali sejak aku melakukannya dengan cewek terakhirku.

Well, di tengah suasana taman yang romantis seperti ini, wajar kalau sepasang kekasih berciuman kan? Lalu aku teringat kata-kata Primrose, kalau Captain tidak akan menyentuh cewek-ceweknya kecuali itu penting menurutnya. Aku jadi berpikir, cewek saja dia tidak disentuhnya, apalagi aku yang cowok. Aku menoleh, eh…dia sedang menutup matanya. Bulu matanya lentik sekali. Tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Sekali lagi aku terperangkap dalam tatapan matanya, yang terlihat bingung, seperti tadi siang.

Lama kami saling bertatapan. Sambil menatapnya aku berpikir, kalau aku ini cewek, aku pasti sudah menutup mataku. Lalu apa yang ada di pikiran Captain ketika melihat cewek yang dikencaninya menutup mata, apakah dia akan menciumnya atau tidak? Kurasa tidak. Aku ingin mencobanya. Aku menutup kedua mataku. Jantungku berdebar menunggu reaksinya. Berapa lama aku harus menunggunya? Apakah aku harus segera membuka mataku?

Lalu kurasakan sebuah tangan menyentuh leherku dengan lembut, dan menarikku ke arahnya. Huh? Tunggu. Dia menyentuhku? Ini tidak mungkin. Aku membuka mataku. Wajahnya sudah berada dekat sekali dengan wajahku, bibir yang terlihat lembut itu sudah membuka. Tidak sengaja aku bertanya,
“Huh…Captain? Kau akan menciumku?”
Dia tidak menjawab pertanyaanku, dan aku seperti orang bodoh karena bertanya seperti itu.  Tiba-tiba tangannya berpindah dari leher ke daguku, menariknya mendekat ke bibirnya, dan aku kembali memejamkan mataku. Lalu sebuah sensasi hangat menerjangku. Bibirnya yang lembut menyentuh bibirku. Tangannya menyentuh leherku sekali lagi, meninggalkan sensasi menggelitik di sana.

Cukup lama Captain mencium bibirku, sesekali lidahnya menggoda lidahku. Aku pun menyambutnya dengan melakukan hal yang sama. Lalu dia melepaskan bibirnya, dan mengusapkan jarinya dengan lembut di bibirku. Aku masih merasakan kelembutan bibirnya saat aku berpikir, apakah Primrose berkata bohong kepadaku? Kenapa Captain yang tidak pernah menyentuh cewek-ceweknya tiba-tiba menciumku? Apakah dia mempermainkan aku? Aku bingung.

“P’White…ada apa?” suara lembut itu bertanya kepadaku.
“Uh…oh…nggak apa-apa. Kurasa aku sudah jatuh dalam sebuah permainan”, kataku dengan suara pelan.
“Huh, permainan? Apa maksudmu p’?”, Captain bertanya dengan wajah yang terlihat kaget.
Aku menggaruk kepalaku yang sama sekali tidak gatal. Entahlah, ini permainan atau bukan, yang jelas aku merasa aku memang sudah jatuh terlalu jauh ke dalamnya.
“Tidak apa-apa, lupakan kata-kataku yang tadi. Sekarang, kita pulang saja. Okay?”
Kami pun berjalan menuju stasiun kereta.

-bersambung-

Have a nice day,

Natsu

 

Note : Maafkan Natsu, karena Natsu terlalu lama hiatus…/membungkuk. Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan mengagumi pasangan lain (baca : fangirling)  XD. Sekarang Natsu sudah kembali. Mohon bantuannya sekali lagi. Terima kasih.

 

Cermin dan Dia

Cermin. Satu benda yang menurutku tidak akan pernah memberitahu setitik kebohongan pun kepadaku. Kecuali, mungkin cermin milik ratu jahat dalam kisah dongeng Snow White and The Seven Dwarfs. Itu juga karena ada peri jahatnya kan? Apa yang ada di diriku, itu pula yang dipantulkan oleh cermin di sudut kamarku ini. Tidak pernah lebih, juga tidak pernah kurang.

Kupandangi pantulan diriku dalam cermin. Lalu kupandangi pantulan dirinya yang masih tertidur di tempat tidur. Bagiku dia juga seperti cermin, selalu mengatakan kepadaku apa adanya. Sejak pertama mengenal dia di bangku kelas satu sekolah dasar,  duapuluhlima tahun yang lalu sampai sekarang. Sekali atau dua kali, ada setitik kebohongan dalam kata-katanya, tapi manusia mana yang tidak berbohong?

Tanganku menelusuri pantulan rambutku di cermin. Rambut yang pendek, kaku, dan nyaris kasar. Sama sekali tidak ada kelembutan di sana. Sama sekali tidak menyenangkan untuk diraba atau diusap. Hanya dia yang mengatakan rambut di kepalaku begitu lembut dan menyenangkan untuk dielus-elus.

Tanganku menelusuri pantulan dahiku yang lebar. Dahi yang menurutku mungkin bisa menjadi tempat mendarat pesawat terbang. Dia hanya tertawa mendengar omelanku tentang dahi ini. Sambil tertawa dia berkata dahi yang lebar memungkinkannya untuk mendaratkan kecupan di beberapa tempat sekaligus, di pinggir atau di tengah.

Tanganku menelusuri pantulan alisku yang tebal dan hitam, dan hampir menyatu bagai jembatan di atas hidungku. Alis yang membuat wajahku terkesan galak dan tidak mau diganggu. Dia bilang bagus kalau wajahku terlihat galak, karena tidak akan ada yang berani dekat-dekat denganku. Hanya dia yang boleh mendekatiku.

Beralih ke pantulan mataku. Mata yang hitam dengan pandangan tajam menusuk ulu hati. Beberapa temanku berkata hanya dengan memandang mataku, mereka bisa membeku menjadi batu. Aku tahu mereka hanya bercanda, tapi candaan itu membuat dia marah. Kala itu dia hampir meninju mereka yang mengatakan itu. Hanya dia yang berkata kalau dia merasakan keteduhan sewaktu menatap ke dalam mataku.

Tanganku masih menelusuri pantulan wajah di cermin, kali ini hidungku. Hidung yang sedikit lebih besar, hampir memenuhi wajahku. Yang di saat aku terserang pilek, berubah warna menjadi merah dan membuat dia tertawa. Dia bilang aku jadi mirip badut, tapi dia dengan segera meminta maaf dan mengecup hidungku. Supaya aku cepat sembuh, katanya.

Dan bibirku, bagian yang paling aku sukai dari wajahku. Bibir yang tidak terlalu tebal juga tidak terlalu tipis. Dengan warna merahmuda yang lembut. Bibir yang menurut dia adalah bagian favoritnya juga. Pertama kali dia menyentuhkan bibirnya dengan bibirku adalah saat usai pesta kelulusan S1ku. Di bawah pengaruh alkohol dan ledekan teman-teman yang hadir, kami pun saling menyentuhkan bibir kami. Yang ternyata mengantarkan sengatan listrik bagi kami berdua dan tentu saja tidak cukup hanya dengan saling menyentuh. Pesta berakhir dengan bibir kami saling melumat, dan lidah saling membelit.

Setelah itu aku menyadari kalau aku membutuhkan dia, dan dia membutuhkan aku. Kami saling jatuh cinta. Dan di hari pertama aku masuk kerja dia memintaku untuk menjadi kekasihnya. Aku menerima permintaannya. Aku. Dia. Kami sepasang kekasih sejak saat itu. Sampai sekarang.

Tanganku masih menelusuri pantulan di cermin, kali ini dada. Dada yang keras, tidak lembut sama sekali. Dada seorang laki-laki dewasa, bukan dada seorang perempuan. Ketika aku menanyakan padanya, apa dia tidak ingin menyentuh dada seorang perempuan. Dia hanya tersenyum dan menenggelamkan kepalanya di dadaku. Katanya, ini sudah cukup. Dia bilang dia merasakan kehangatan di sana, kehangatan yang pasti sama antara laki-laki dan perempuan.

Kualihkan tanganku ke perutku yang rata, hasil paksaannya untuk rajin latihan di pusat kebugaran sebanyak tiga kali seminggu. Perut dengan ketiadaan rahim, yang diperlukan untuk meneruskan keturunan. Pertanyaan yang selalu kuajukan di awal-awal hubungan kami, apakah dia tidak ingin mempunyai anak. Dia selalu terdiam dan tidak menjawab jika aku menanyakan hal itu. Hanya saja suatu hari dia menjawab dia ingin mempunyai anak, denganku tentu saja. Aku tertawa keras mendengar jawabannya, karena itu tidak mungkin. Mungkin saja, kilahnya. Kita akan menikah, walau harus pindah kewarganegaraan dan kita akan mengangkat anak. Begitu yang dia katakan.

Aku kembali memandangi pantulan wajahku di cermin, yang kali ini ada tambahan air mata yang mengalir di sana. Air mata yang tidak bisa kutahan bila mengingat semua yang kami lalui bersama. Kupandangi pantulan lelakiku di cermin, yang sudah terbangun dari tidurnya dan kini melangkah mendekatiku. Tangannya melingkari pinggangku. Dada dan perutnya menempel erat di punggungku. Kepalanya tenggelam di pundakku. Cerminku memantulkan pemandangan yang indah di mataku.

“Why are you crying?”
“No. I am not crying.”
“Liar. What’s this tears on your face?”
“Tears of happiness, i guess. Just thinking of you, me, and ours.”
Dia mengangkat kepalanya dan tersenyum.

Aku tidak menyadari kalau tangannya ternyata menggenggam sesuatu. Tangan kanannya meraih tangan kiriku, meraba jari manisku, memasukkan sebentuk cincin keperakan ke batang jariku, membawa tanganku ke bibirnya dan menciumnya.

“Happy anniversary, my dear. We’ve been together for 8 years. Not to mention we’ve known each other since our childhood time. So, i think it’s time to take a great big leap for us. Will you marry me?”

Air mataku kembali mengalir dengan deras. Kubalikkan tubuhku menghadapnya, dan kujatuhkan diri dalam pelukannya. Lelakiku, lelaki yang perkataan dan tindakannya bagaikan cermin buatku, hari ini melamarku. Kubiarkan diriku terisak dalam peluknya, sebelum akhirnya aku menjawab,

“Yes. I will marry you.”

Buat maz Bakpao dan maz Kembang.

Suatu Senja di Kuta

Aku memandangi lautan luas yang terbentang di hadapanku. Suara deburan ombak tanpa putus memasuki ruang telingaku. Yang kemudian dihantarkan oleh jutaan sel syaraf menuju ke sel-sel kelabu di dalam tempurung kepalaku. Membuatku merasa semakin terbuai dengan kelembutannya.

Sama halnya ketika pertama bertemu denganmu. Jabat tanganmu yang erat, yang menghantarkan gerigit listrik statis ke sekujur tubuhku. Lalu gerigit listrik statis itu seketika berubah menjadi sengatan yang tajam ketika aku memandang matamu.  Mata yang dalam, mata yang memberi ketenangan, mata yang lembut sekaligus tegas. Aku bagaikan terhisap masuk dalam kedalaman mata itu.

Jangan keluarkan aku dari tatapan mata itu, teriakku.

Sejak saat itu aku selalu berada dalam tatapan matanya. Saat bersamanya, dia tidak pernah mengalihkan tatapannya dariku. Selalu aku, dan hanya aku. Milikku adalah miliknya. Duniaku adalah dunianya. Hanya ada dia dan aku. Salahkah aku bila aku beranggapan seperti itu?

Kami berdua memandang matahari senja yang sudah siap kembali ke peraduannya. Suara debur ombak masih mengalun pelan di telingaku. Aku mengalihkan mataku, menatap wajah teduh yang ada di sampingku. Dia menoleh dan balas menatapku, lalu tersenyum. Tangannya terulur dan meraih tanganku, menggenggamnya erat-erat.

Seiring dengan genggaman tangannya yang semakin erat, arus ingatan dalam sel-sel kelabu di kepalaku pun seperti mengalir keluar. Saat pertama kali tangan kami bersentuhan. Saat pertama kali kami saling membisikkan kata cinta. Saat pertama kali bibir kami saling bertemu dan lidah kami saling bertautan. Saat pertama kali dia menyentuhkan tangannya di tubuhku. Juga saat akhirnya kami pertama kali menyatukan hasrat yang membara di bawah sana.

Yang mengalir keluar bukan hanya arus ingatan yang indah, arus ingatan yang membuatku hampir gila pun turut mengalir. Saat di mana kami harus memilih, tetap bersama atau kembali ke kekasih masing-masing. Saat di mana kami menghadapi keluarga yang sama sekali menentang hubungan kami berdua. Saat kami akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan kami dan hengkang dari ibukota. Saat di mana kami harus menyesuaikan diri lagi di tempat yang baru, yang sama sekali juga tidak mudah.

Kuraih genggamannya dan kukecup lembut punggung tangannya. Kupandangi cincin platina yang melingkar di jari manis kirinya, yang bertuliskan namaku di bagian dalamnya. Cincin dari bahan yang sama juga melingkar di jari manis kiriku, tentu saja bertuliskan namanya. Cincin yang menjadi saksi atas janji kami untuk saling setia. Dia tersenyum dengan lembut dan balas mengecup punggung tanganku….

“Natsu, jangan bengong aja! Pulang yuk, sunsetnya juga udah ilang tuh!” suara teriakan Mela membuyarkan lamunanku.
“Iya…iya…bentar. Tungguin ‘Mel, aku beresin ini dulu.”

Sambil membereskan bawaanku, aku menatap ke arah dua lelaki yang sedari tadi duduk menghadap pantai. Lelaki yang duduk di sebelah kanan tampak sedang mengecup punggung tangan lelaki di sebelahnya. Ah, tampaknya mereka adalah sepasang kekasih. Aku tersenyum memandangi mereka.

“Natsu!!! Cepetan sik.”
“Iyaaaaa…”

Mela bawel! Aku pun segera beranjak dari tempatku. Sesekali masih kutolehkan kepalaku ke arah dua lelaki yang kini hanya terlihat sebagai siluet yang indah. Senja yang indah, di pantai Kuta.

Tujuh Hari Mencari Cinta bagian 5

Alternate Universe
Bagian : Lima dari…
Pairing : Captain x White
Semua umur

Rabu, White

Seperti biasa, aku menghabiskan waktu perjalanan ke sekolahku dengan memandangi deretan gedung dan rumah yang dilalui kereta. Waktu perjalanan yang sama, pemandangan yang sama, orang-orang yang sama. Hmm, tidak. Hari ini sepertinya lebih sesak dan lebih penuh, sampai-sampai seragamku jadi agak lecek begini. Ada apa sih, dengan hari Rabu ini? Sepertinya semua orang ingin cepat sampai tujuan di jam yang sama. Huuuft. Omong-omong, hari Rabu? Hari ketigaku dengan Captain ya. Ah…

“Perhatian kepada penumpang yang akan turun di stasiun OO, dimohon bersiap untuk turun.”

Aku melangkahkan kakiku keluar dari kereta begitu pintunya membuka di stasiun OO. Kulihat jam di pergelangan tanganku, waktuku masih cukup banyak sampai latihan basket pagi dimulai. Aku berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang berjalan dengan cepat. Tiba-tiba…

Bzzt….bzzt…bzzt…

Kurasakan handphone di saku celanaku bergetar. Kalau sedang dalam perjalanan di kereta, aku selalu mengaktifkan mode getarnya, karena kalau hanya mengandalkan bunyi ringtone, pasti tidak akan terdengar. Kuraih handphone dan memperhatikan nama yang muncul, Captain. Ada apa dia meneleponku? Toh, kami akan bertemu di sekolah nanti. Sambil terus berjalan, aku menggeser gambar keylock ke answer, dan menjawab dengan setengah mengantuk,

“Hmm…pagi.”
“Halo p’White…suaramu kayak masih ngantuk. Lagi di mana sekarang?”
Dan aku beneran menguap,
“Hoaaaahm…udah di stasiun deket sekolah.”
“Terus mau keluar lewat pintu mana p’?”
“Eh, emang kamu mau ngapain?”
“Ayolah p’, mau keluar stasiun lewat pintu mana?”
“Aku mau keluar lewat pintu selatan, aku lagi jalan ke sana.”
“Okay. Aku tunggu di depan mesin tiket di pintu selatan ya.”
“Hah?”
Klik.
Tut…tut…tut…

Aku memandangi handphoneku, sambil bertanya dalam hati, dia bilang apa tadi? Nunggu di depan mesin tiket? Perlahan aku berjalan menuju pintu selatan stasiun, dan pandangan mataku pun menangkap sosoknya dari kejauhan. Dia benar-benar ada di sana. Captain ada di sana. Berdiri menyandar dinding di dekat mesin tiket, dan tentu saja…dikelilingi oleh cewek-cewek yang merupakan fansnya. Samar-samar aku mendengar mereka menyapanya dengan ceria,

“Captain….selamat pagi!”

Kuhentikan langkahku sejenak untuk mengamatinya dari tempatku sekarang. Dia bersandar santai di dinding, dengan ramahnya mengobrol dengan cewek-cewek tersebut. Aku terus menatapnya sambil berpikir, dengan wajahnya yang tampan dan gerak refleks badannya yang luar biasa saat bermain basket, cowok satu ini nggak ada celanya. Yah, asal jangan melihat kebiasaan bolos latihannya. Juga jangan melihat ceweknya yang gonta-ganti setiap awal minggu.

Omong-omong tentang cewek… Hah? Tunggu, kenapa aku jadi merasa terganggu dengan masalah cewek ini? Toh, semua murid di sekolah kami sudah mengetahui kebiasaannya itu. Juga tentang Captain yang suka sengaja menghindari keramaian, suka seenaknya sendiri, dan malasnya itu. Yah, tapi itu juga yang membuatnya terkenal di antara cewek-cewek sekolah kami. Sudahlah, nggak ada gunanya aku memikirkan fans ceweknya. Aku tersenyum sendiri dan meneruskan langkahku mendekati Captain.

Rupanya dia sudah menyadari kedatanganku yang mendekat ke arahnya. Dia tersenyum dan melambaikan tangan kepadaku. Seorang dari cewek-cewek itu menoleh ke arahku dan berkata,
“Eeeeeh…jadi Captain di sini nungguin p’White?”
Aku memasang senyum manis di wajahku, dan menyapa mereka dengan suara seceria mungkin,
“Selamat pagi!”
Mereka semua tampak terkejut melihatku, beberapa di antaranya tersenyum malu-malu dan balas menyapa,
“Selamat pagi juga p’White…”

Aku memperhatikan wajah Captain yang tampak bingung menatapku, membuatku ingin tertawa tapi aku berusaha menahannya. Akhirnya aku menyapa dia,
“Selamat pagi, Captain.”
Dia tersenyum sekilas dan membalas,
“Pagi juga, p’White.”
Lalu di antara cewek-cewek ini ternyata ada anggota klub basket putri, namanya Nan dan sekarang dia mengajakku berbicara,
“Hai p’White. Ini tumben sih, Captain mau latihan pagi. Biasanya nggak pernah dateng. P’White hebat, bisa maksa Captain latihan pagi. Kalian sekarang temenan deket ya?”
Sambil tersenyum lebar aku menjawab pertanyaan Nan,
“Yap.”

Aku terus berpikir, cewek-cewek yang berusaha mendekati Captain ini banyak sekali. Entah apa yang akan terjadi pada hari Senin besok. Aku tidak mau membayangkannya. Sambil berjalan keluar dari stasiun, kami terus melanjutkan pembicaraan. Nan sekarang bertanya kepada Captain,
“Omong-omong Captain, siapa pacarmu minggu ini?” sambil tersenyum lebar.
Aku melirik sekilas ke arah Captain, wajahnya terlihat gugup ketika mendengar pertanyaan Nan dan menjawabnya,
“Ah…itu…”
Kuputuskan untuk menjawab pertanyaan Nan,
“Oh. Pacarnya minggu ini, aku. Aku lho. Aku”, sambil menunjuk diriku sendiri.

Semua cewek yang ada di sana, dan kami berdua terdiam sejenak mendengar jawabanku. Tentu saja, siapa yang mau percaya dengan jawabanku. Mana mungkin Captain mau berpacaran dengan seorang cowok? Tiba-tiba Nan memecahkan keheningan dengan tertawa keras,
“Hahaha…p’White ini. Bercanda ya!”
Yang lain pun akhirnya ikut tertawa. Lalu salah satu temannya ikut berkata,
“Eh tapi p’White dan Captain ini cocok lho. Kalian berdua terlihat serasi kalau berdiri bersampingan kayak gini.”
Aku hanya nyengir mendengarnya dan mengucapkan,
“Terima kasih.”

Dalam hati aku berkata, aku nggak bercanda. Aku serius. Ya sudahlah, sekali lagi siapa yang mau percaya? Aku memandang wajah Captain, yang ternyata sedang memandangku sambil tersenyum. Lalu kudengar lagi Nan berkata,
“P’White, Captain ini nggak pernah ngasih tau lagi pacaran sama siapa. Jadi kadang, kita penasaran gitu, siapa pacarnya minggu ini.”
Aku hanya tersenyum. Captain juga ikut tersenyum dan menanggapi kata-kata Nan,
“Siapa pacarku kan, nggak perlu disebar-sebar, Nan. Cukup aku dan pacarku aja yang tau.”
Nan tertawa mendengar jawaban Captain. Sementara yang lain hanya mengangguk mengiyakan dan kami pun melanjutkan perjalanan ke sekolah.

***

Di kelas, aku menghabiskan jam istirahatku dengan mengingat-ingat apa saja yang sudah Captain lakukan untukku selama 3 hari ini. Inilah yang dilakukannya : mengirim sms ucapan selamat pagi dan sms ucapan selamat malam, makan bareng, belanja bareng, dan nonton film bareng meskipun akhirnya kami berdua tertidur di bioskop. Terus tadi pagi…jalan bareng dari stasiun ke sekolah. Hmmm…

Sambil berpikir aku mengayun-ayunkan bangku tempat dudukku. Kalau saja kami berdua adalah pasangan biasa, cewek dan cowok, mungkin selama kami kencan kemarin dan ketika jalan bareng tadi pagi, kami berdua sudah berpegangan tangan. Ah, tapi apa Captain tipe orang yang seperti itu? Maksudku, tipe orang yang gampang bersentuhan dengan pasangannya ketika kencan?

Aku jadi penasaran, sebenernya kayak apa sih, Captain kalau kencan dengan cewek? Kuedarkan pandanganku ke penjuru kelas, dan kulihat Primrose sedang duduk di bangkunya sambil membaca buku. Kujentikkan jariku. Aha! Aku bisa bertanya kepada Primrose, yang pernah pacaran dengan Captain.

Perlahan aku menghampiri Primrose dan menyapanya,
“Hey, Prim. Ada yang mau aku tanyakan kepadamu…”
Primrose mengalihkan pandangan dari bukunya,
“Eh, White. Mau tanya apa?”
Aku memainkan jari-jari tanganku, berpikir ulang apakah sopan menanyakannya pada Primrose. Walau akhirnya aku bertanya juga,
“Prim, waktu kamu pacaran dengan Captain, apa aja yang kalian lakukan? Apakah sampai pegangan tangan, atau lebih dari itu?”
Mendengar pertanyaanku, wajah Primrose berubah. Gawat, kelihatannya dia marah. Tidak, dia memang marah karena tiba-tiba dia berdiri dan mencubit pipiku dengan keras.

“Ow…sakit, Prim!”, aku berteriak sambil menepis tangannya.
Dengan nada marah dia berkata,
“Nanya begitu, kamu ini bener-bener nggak pengertian, makanya banyak cewek yang kecewa dengan kelakuanmu. Rasanya wajah tampanmu itu sia-sia deh, kalau inget kelakuanmu yang kayak gini.”
Sambil mengelus-elus pipiku yang masih terasa sakit aku berkata,
“Anu, itu…”
Dengan galak Primrose terus memandangiku, tapi lalu wajahnya berubah menjadi lembut,
“Kenapa kamu bertanya tentang hal itu?”

Aku jadi merasa tidak enak melihat reaksi Primrose atas pertanyaanku, tapi aku harus menjawab pertanyaannya,
“Nggak sih, nggak kenapa-napa. Cuma, akhir-akhir ini aku lebih deket sama Captain. Aku jadi berpikir…”.
Aku tidak menyelesaikan kalimatku, karena tiba-tiba Primrose memandangku dengan tajam. Lalu kepalanya tertunduk dan dia menopangkan tangan di dagunya sambil berkata,
“Dia tidak pernah memegang tanganku. Jangankan memegang tangan, hanya merangkul sekilas saja, dia tidak pernah melakukannya. Captain tidak pernah menyentuhku atau pacar-pacarnya yang lain, kecuali kalau dia merasa dia perlu melakukannya.”

Mendengar kata-kata Primrose, aku hanya bisa terdiam dan terus memandangnya. Dia meneruskan lagi,
“Saking dia tidak pernah menyentuh pacar-pacarnya, aku pernah denger ada yang sampai memaksa Captain untuk menyentuhnya. Dia sudah terkenal karena hal itu.”
Aku hanya bisa mengatakan,
“Hm….sayang banget, dia melewatkan kesempatan menyentuh cewek”, yang disambut dengan tatapan dingin Primrose.

Primrose lalu memandang ke arah pintu kelas kami. Wajahnya berubah, dan dia berkata,
“Oh…itu Captain. Kenapa dia berdiri di depan pintu kelas kita?”
Di pintu, aku melihat Captain yang lagi-lagi berdiri menyandar di sana. Kali ini dia berdiri membelakangiku, mungkin karena tadi dia melihat aku sedang berbicara dengan Primrose, salah satu mantan pacarnya.

Primrose langsung menatapku dengan curiga,
“Ada apa ini? Ada apa antara kalian berdua? Memang kalian berdua berteman sebaik itu? Sampai dia perlu dateng ke kelas ini tiap jam istirahat atau pulang sekolah?”
Aku tidak bisa menahan senyumku yang mengembang, yang berubah menjadi cengiran,
“Well, begitulah Captain. Menurutku dia sedikit aneh, tapi aku menikmati obrolanku bersamanya. Thanks, Prim.”
Primrose menjawabku tanpa tedeng aling-aling,
“Karena kau juga aneh, White. Makanya nyambung.”

Aku hanya tertawa dan menuju pintu kelas, menghampiri Captain yang menungguku di sana,
“Hey, kau sengaja datang di jam istirahat. Ada apa?”
Captain menoleh kepadaku,
“Cuma ingin ngobrol sama p’White, tapi nggak enak kalau ngobrol di sini. Kita ke koridor jembatan?”
“Okay. Kita ke koridor jembatan.”

Dalam perjalanan kami ke koridor jembatan, kami mampir sebentar ke kantin dan dia membelikanku sekotak minuman. Koridor jembatan di sekolah kami menghubungkan gedung tempat kelas 10 serta laboratorium dan gedung tempat kelas 11 serta 12. Merupakan tempat yang nyaman untuk ngobrol, dan jadi tempat favorit untuk murid-murid yang janjian ketemu. Jadilah kami berdua mengobrol di sana.

Sambil bersandar di dinding jembatan dan menghadap koridor, Captain bertanya kepadaku apakah dia boleh menemaniku sesorean ini. Aku menjawab dengan nada bertanya sambil menyedot minumanku,
“Beneran nih, kamu nanti mau terus barengan sama aku? Sepanjang sore ini?”
Captain memandangku, ragu-ragu dia menjawabku,
“Apa aku mengganggu kalau menemanimu p’? P’White nggak suka?”
Aku balas memandangnya sambil berkata,
“Aku udah pernah bilang kan, kalau aku nggak suka, aku akan bilang nggak suka.”
Dia lalu berkata,
“Okay, jadi nanti aku akan menemanimu pulang ya p’. Yes!”

Wajahnya menjadi terlihat begitu senang. Senyumnya begitu lebar dan sumringah, sampai aku terpana dengan senyumnya itu. Aku balas tersenyum dan menatapnya,
“Omong-omong, sebagai cowok…kamu ternyata lebih pinter dari yang keliatannya ya?”
Dia terkejut dan bertanya,
“Eh? Maksudnya?”

Aku menunjuk pada kotak minumanku,
“Yeah, hari ini kamu beliin aku minuman ini. Kemarin juga, kamu yang bayarin ramen dan tiket bioskopnya. Thank you, yah!”
Dia menunduk dan menarik napas panjang,
“Uhm, sama-sama p’. Lagipula kita kan, pacaran. Wajarlah, kalau aku bayarin p’White. Nanti kita bisa gantian.”
Aku tertawa mendengarnya,
“Hahaha. Kayak ada yang percaya kalau kita pacaran.”
Dia nyengir.

Sambil bersandar di dinding dan menatap taman di bawah koridor jembatan, aku melanjutkan kata-kataku,
“Kamu tahu nggak, akhir-akhir ini karena kita sering ngobrol dan jalan bareng, cewek-cewek itu jadi lebih histeris.”
Captain memandangku dengan serius,
“P’White nggak suka sama cewek-cewek?”
Aku menopangkan tangan di daguku dan berkata dengan suara pelan,
“Bukannya nggak suka. Uhm, andai saja di antara mereka ada satu orang, yang bisa nerima aku apa adanya. Aku rasa itu cukup buat aku.”

Setelah itu aku dan Captain terdiam cukup lama. Aku melirik ke arahnya, wajah tampannya tampak sedang menekuri lantai. Tiba-tiba dia berkata,
“Begitu ya? Hmmm…pasti ada seseorang yang seperti itu p’. Cuma p’White aja yang belum nemuin.”
Aku tertawa mendengarnya, tidak menduga dia akan berkata seperti itu. Mendengar tawaku, Captain pun ikut tertawa.

Puas tertawa, aku kembali menekuri taman di bawah,
“Captain, pulang sekolah nanti, jangan langsung pulang bersamaku…kamu harus latihan dulu.”
Dia menghembuskan napas keras-keras, kelihatan sekali kalau dia tidak suka dipaksa latihan. Sebelum dia sempat membantahku, aku langsung berkata lagi,
“Aku akan menunggumu. Kalau sudah selesai latihan, telepon aku. Kita pulang bareng. Tapi kalau aku bosen nunggu, aku pulang duluan ya.”

Captain hanya melirikku. Lalu dia membalikkan badan, ikut memandang taman di bawah jembatan sambil berkata,
“P’White, tolong tunggu aku ya. Kalau p’White nungguin aku, aku pasti akan berusaha dengan keras selama latihan.”
Aku menatap wajahnya yang kelihatan serius. Mau tidak mau aku harus menyetujui permintaannya. Aku pun mengangguk,
“Baiklah. Aku akan menunggumu.”

-bersambung-

Have a nice day!

Natsu

Tujuh Hari Mencari Cinta bagian 4

Alternate Universe
Bagian : Empat dari…
Pairing : Captain x White
Semua umur

Selasa siang, Captain

Aku tidak pernah menduga kalau aku akan bisa pulang sekolah bersama p’White. Kupikir dia tidak akan mau pulang atau jalan bersamaku. Kemarin dia tidak mau pulang bersamaku karena dia pikir aku masih harus ikut latihan klub, meskipun akhirnya aku absen latihan karena harus menemui Mrs. Catherine. Sekarang aku dan p’White akhirnya saling mengetahui kalau rumahku dan rumahnya searah. Hanya rumah p’White letaknya lebih jauh dari sekolah. Saat ini kami pun duduk bersebelahan, di jalur kereta menuju ke area rumah kami.

“Perhatian kepada para penumpang yang hendak turun di stasiun XX dimohon bersiap untuk turun.”

Kereta berhenti di stasiun XX, stasiun yang paling dekat dengan rumahku. Seharusnya aku turun di situ, tapi entah kenapa aku belum ingin turun dari kereta. Aku masih ingin bersama p’White. Kereta lalu berjalan lagi meneruskan rute perjalanan. Aku memandangi wajah p’White yang sedang duduk menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, termenung menatap ke luar jendela kereta. P’White lalu berkata dengan suara pelan,
“Hey…bukannya kamu mestinya turun di stasiun tadi?”
Aku mengalihkan pandanganku dari wajahnya, tersenyum dan menjawab,
“Yap.”

P’White menegakkan tubuhnya dan menatapku, berkata dengan nada serius,
“Beneran? Terus kenapa kamu masih di sini? Kenapa tadi nggak turun?”
Aku menatap ke tempat duduk kosong di depanku,
“Aku mau ikut p’White sampai stasiun tempat p’ nanti turun.”
Aku tidak memperhatikan wajah p’White ketika dia menanyakan,
“Kenapa?”
Aku terus memandangi kursi di depanku yang sekarang sudah ditempati oleh seorang anak perempuan bersama ibunya,
“Karena aku ingin bersama p’White lebih lama.”
Aku menoleh ke arahnya dan kulihat dia hanya diam sambil menatapku.

Kereta terus berjalan dan kami berdua saling diam untuk waktu yang cukup lama. Kulihat p’White memperbaiki posisi duduknya, dan sekarang dia menatap anak perempuan di depan kami,
“Captain, aku mau bertanya…”, tapi lalu dia terdiam lagi.
Sekarang dia memainkan jari-jari tangannya. Kualihkan pandanganku ke wajahnya. Eeeh? Kenapa wajah itu terlihat malu-malu? Seolah dia ingin memastikan sesuatu tapi takut dengan reaksi yang aku berikan. Lalu tiba-tiba dia berkata, ada keraguan di dalam suaranya,
“Eeee….kita sekarang, pacaran kan ya?”
Aku langsung menjawabnya,
“Tentu saja. Kamu pacarku sekarang, p’White.”
Wajah p’White tampak memerah. Dia mengusap-usapkan tangan ke kepalanya sambil berkata,
“Oh…oke…”

Aku memperhatikannya sambil berpikir, apa dia lupa dengan permintaannya padaku kemarin? Maksudku, dia orang pertama di hari Senin yang memintaku untuk pacaran kan? Lalu kulihat p’White tersenyum dan berkata,
“Baiklah. Kalau gitu, aku akan berusaha untuk menikmati waktu pacaran kita seminggu ini. Aku juga akan berusaha untuk menjadi pacar yang baik.”
Aku hanya bisa bengong mendengarnya. Baru saja aku mau menanyakan apa maksud perkataannya, suara pengumuman di kereta terdengar lagi. Kali ini kereta akan berhenti di stasiun YY.

Kereta pun berhenti. P’White langsung berdiri dari duduknya dan berkata,
“Ayo…kita turun di sini”, lalu melangkah ke pintu kereta yang sudah terbuka lebar. Aku terkejut karena stasiun ini bukan stasiun tempat dia harus turun, masih ada satu stasiun lagi yang harus dilewati. Dengan perasaan bingung aku pun ikut turun dari kereta. P’White berjalan di depanku dengan langkahnya yang cepat. Aku harus setengah berlari untuk mengejarnya, sampai menabrak beberapa orang yang juga sedang bergegas menuju ke peron kereta.

Begitu tubuhnya berada dalam jangkauan tanganku, aku langsung meraih bahunya dan kupaksa dia untuk menatapku,
“P’White….kemarin, kamu…”, belum selesai aku berbicara, p’White sudah memotongku dengan,
“Captain, kita kencan hari ini ya!”
Aku terkejut mendengar permintaannya. Hanya tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menusuk di dadaku. Kenapa rasanya sakit? Kenapa permintaan kencan yang dilontarkan p’White malah terdengar menyakitkan untukku? Aku harus menanyakan kenapa tiba-tiba dia mengajakku kencan,
“Hah, kencan…? Apa maksudmu, p’White?”
P’White yang sudah berjalan lagi di depanku menoleh dan tersenyum menjawabku,
“Well, ini sudah hari Selasa. Batas waktu pacaran denganmu hanya seminggu kan? Seminggu itu cepet banget lho, Captain. Aku harus menggunakan waktu yang aku punya dengan baik.”

Hatiku mencelos mendengar jawabannya. Reaksinya sama dengan yang lain, harus menggunakan waktu seminggu ini dengan baik. Kenapa dia tidak memberikan alasan yang lebih baik? Aku tidak pernah menganggap waktu pacaran semingguku sebagai suatu permainan. Aku selalu menganggap serius semua hubungan satu mingguku. Ah, aku harus menjelaskannya,
“P’White, bukannya aku tidak mau kencan denganmu, tapi…”
Dia langsung memotong perkataanku,
“Eeeh? Kamu nggak mau kencan berdua seperti ini? Bukannya kencan kayak gini udah jadi kewajiban kalau bersamamu?”

Aku bingung mendengar perkataannya. Aku menjawab dengan pelan,
“Kewajiban? Nggak ada p’. Aku…belum pernah, buatku nggak ada kewajiban kencan kayak gini.”
Dia tertawa mendengar jawabanku,
“Oh ya? Berarti baguslah, aku yang pertama dong. Sekarang kita makan aja yuk. Aku laper banget nih.”
Kami berdua keluar dari stasiun dan menuju pusat pertokoan. Aku hanya bisa terus berjalan di belakang p’White. Ketika melewati sebuah restoran ramen, tiba-tiba dia berkata,
“Kenapa aku jadi pengin makan ramen. Oke, kita makan di sini”, dan langsung memasuki restoran ramen itu.

Aku hanya bisa berdiri diam di depan restoran. Kenapa dia terlihat santai begitu? Apa ajakan pacaran yang dia katakan kepadaku hanya main-main saja? Tanpa sadar aku bergumam dengan pelan,
“P’White, apa kamu hanya main-main denganku?”
P’White yang sudah masuk restoran kembali keluar karena melihatku tidak mengikutinya. Dia menuju ke arahku sambil bertanya,
“Hmm…Captain? Kamu ngomong sesuatu?”

Aku tidak menjawab pertanyaannya karena sibuk dengan pikiranku sendiri. Kenapa aku merasa bahwa ini akan berjalan seperti hubungan-hubunganku yang sebelumnya? Kalaupun akhirnya aku jatuh cinta beneran kepada p’White, kenapa aku merasa kalau hubungan kami tidak akan berjalan seperti yang aku inginkan? Lalu, apakah dia serius denganku? Aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini kalau permintaannya kemarin bukan permintaan yang serius. Sekali lagi, bagiku ini bukan sebuah permainan. Aku harus segera mengakhirinya.

Tiba-tiba tangannya menarik tanganku, aku tersentak dari lamunanku,
“Kamu kenapa sih? Ngapain bengong aja di situ? Ayo, kita makan!”
Aku cuma bisa diam, tapi aku tetap mengikutinya masuk ke restoran ramen yang ternyata merupakan restoran ramen ala Jepang. Lengkap dengan meja dan tempat duduk yang berada tepat di depan dapurnya. Kami berdua pun duduk di meja tersebut dan memesan ramen.

Ketika ramen kami datang, aku masih termenung dan membiarkan kepulan asap ramen memenuhi wajahku. Aku mendengar suara sumpit yang dipatahkan menjadi dua oleh p’White. Lalu aku mendengarnya berkata,
“Kamu nggak suka ramen ya? Kok nggak dimakan?”
Dengan kaget aku menjawab,
“Hah?”
Aku memperhatikannya mengaduk ramen di mangkuk. Dia lalu berkata, kali ini dengan suara agak ketus,
“Kalau emang nggak suka ramen, harusnya kamu bilang. Jangan cuma ngikutin aku aja. Aku tuh, paling nggak seneng sama orang yang nggak suka sesuatu tapi nggak mau bilang.”
P’White lalu memandangku, tatapan matanya yang tajam seakan menusuk hatiku.

“Nggak gitu kok p’. Aku cuma ngerasa ada yang sedikit mengganggu pikiranku”, jawabku. Setelah aku menjawab begitu, aku kembali dalam lamunanku. Hanya memandangi mangkuk ramen yang ada di depanku. Aku terganggu dengan perasaanku sendiri, kenapa aku nggak bisa fokus dengan hubunganku dengan dia? Aku melirik p’White yang sedang sibuk dengan ramennya. Sambil menyumpit ramen dia berkata,
“Yah…kalau kamu nggak suka dengan kencan kita ini, kita batalin aja. Habis ini aku pulang kamu pulang. Oke?”, lalu dia memasukkan ramen ke dalam mulutnya.

Aku menatap p’White yang sibuk mengunyah ramen. Wajahnya terlihat imut sekali, dengan pipinya yang menggembung. Aku menghela napas,
“Jadi p’White nggak suka, kalau ada orang yang cuma nurut aja sama p’White? Gitu?”.
Dia menelan ramennya, mengacungkan sumpit di depan wajahnya, dan berbicara dengan suara tegas,
“Bener banget! Aku nggak suka sama orang yang kayak gitu.”
Lalu dia tersenyum dan melanjutkan,
“Karena nggak ada artinya. Buat apa pergi berdua, kalau yang nikmatin cuma salah satu? Harusnya dinikmatin bareng dong.”
Aku hanya bisa diam dan mulai menikmati ramenku. Ah, ternyata ramen di restoran ini enak.

Tiba-tiba p’White menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong ke koki restoran,
“Tambah ramennya, Mr. Chef.”
Aku bengong menatapnya. Nggak kusangka, p’White makan dengan begitu cepat, dan minta tambah pula. Makannya banyak juga ya. Aku menikmati ramenku sambil berpikir kalau kata-kata p’White ada benarnya juga. Buat apa kami kencan kalau hanya dia yang menikmati kencannya sendirian? Harusnya aku juga menikmati acara kencan kami kan? Akhirnya kuputuskan untuk mengajaknya,
“Ke toko alat olahraga yuk?”

P’White yang sedang sibuk dengan ramen di mangkuk keduanya, berkata dengan nada kaget,
“Eh? Toko alat olahraga?”
Aku mengangguk,
“Aku pengin lihat sepatu. Siapa tau ada model baru.”
Dia menatapku,
“Sepatu basket?”
“Apa lagi? Iyalah.”
Dia langsung tersenyum lebar mendengar jawabanku,
“Ayo kita ke sana”, dan dengan segera menghabiskan ramennya. Kali ini dia menghirup ramennya langsung dari mangkuk, membuatku tersenyum sekaligus terkejut.

Di toko alat olahraga, sambil melihat dan memilih sepatu basket aku terus berpikir, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang p’White. Aku sama sekali tidak menduga, kalau dia yang kelihatannya begitu tenang dan lembut, bisa berkelakuan spontan seperti yang aku lihat hari ini. Tiba-tiba mengajak kencan, porsi makannya yang ternyata banyak padahal badannya langsing begitu, juga cara bicaranya yang kadang lembut kadang meledak-ledak. Diam-diam aku menatap p’White yang sedang memilih-milih sepatu. Yang lebih mengherankan lagi, aku sama sekali tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. P’White, apakah aku jatuh cinta kepadamu? Akhirnya kami berdua membeli sepatu dengan merk dan model yang sama, hanya berbeda warna. Couple shoes? Entahlah.

Usai membeli sepatu, aku memutuskan untuk mengajaknya ke bioskop. P’White menyetujui permintaanku dan pergilah kami berdua menonton film. Sebenarnya film yang kami pilih adalah film yang bagus, hanya saja mungkin kami berdua sudah terlalu capek. Ditambah dengan udara dingin di dalam bioskop, membuat mata rasanya ingin terpejam. Aku merasakan kepala p’White yang terantuk-antuk menyentuh bahuku, pelan-pelan tubuhnya bersandar di tubuhku. Kuraih kepalanya dan kusandarkan dengan lembut di bahuku. Gambar di layar bioskop terus berganti, tapi aku dengan segera lupa tentang jalan cerita film yang kami pilih itu. Rasa mengantuk memang menular, aku pun jatuh tertidur di sampingnya.

-bersambung-

Have a nice day!

Natsu

The Two Little Demons and Taylor Swift

image

“P’White, lagi liyat apa sih di henponnya?”
“Mau tau aja atau mau tau banget?”
“Aku kan nanyak, masa’ dibales nanyak sih.”
Nong White mesem-mesem nggak jelas,
“Nggak liyat apa-apa, cuma lagi balesin chat.”

image

“Nong Captain, kamu masih penasaran ya?”
Giliran nong Captain yang nyengir,
“Iya p’. Kalau nggak mau ngasih tau, nggak apa-apa.”
“Eh kok udah nyerah aja. Coba rayu aku. Kalau rayuanmu keren, aku kasih liyat deh.”
Nong Captain dalam hati,
“Haduh, ngerayu apa biar dikasih liyat.”

image

Nong Captain nyoba melancarkan rayuan mautnya,
“P’White…p’White yang ganteng, kayak sekoteng, pakek baju koneng, tambah mentereng deh.”
Nong White langsung nyengir,
“Oh, aku pakek baju koneng kliatan ganteng ples mentereng ya? Oke. Deal.”
Nong Captain keliatan seneng, bisa dikasih liyat henpon nong White,
“Eh…oooh, akun instagramnya Taylor Swift.”

image

Nong White langsung senyum lebar,
“Iya, dia keren banget. Vidio klipnya yang baru, udah liyat?”
Nong Captain juga senyum lebar,
“Udah-udah, aku udah liyat. Keren emang. Nggak bosen dengerin lagunya.”
“Ya kan…yang Shake It juga keren, tapi aku sukak yang Blank Space.”
Nong Captain mandangin nong White yang tersenyum sumringah, sambil bilang dalam hati,
“But I’ve got a blank space, baby
And I’ll write your name.”

Dan berakhir dengan malam ini nong Captain follow akun IGnya mbak Taylor Swift

note : Natsu nggak bisa tidur, jadi bikin beginian deh…

    

Tujuh Hari Mencari Cinta bagian 3

Alternate Universe
Bagian : Tiga dari…
Pairing : Captain x White
NC-13.

Selasa pagi, Captain

“Twinkle…twinkle…little star”

“Mmmmmh…”

Ringtone ini… Tina? Pelan-pelan kubuka mataku. Di atas meja belajar, layar handphoneku berkelip-kelip. Kusibakkan gordyn jendela di samping tempat tidurku, di luar masih gelap. Untuk apa Tina meneleponku jam segini? Dengan berat kuangkat badanku dari tempat tidur sambil mengucek-ucek mata yang masih sulit terbuka lebar. Kulangkahkan kakiku ke meja belajar, tapi begitu tanganku menyentuh handphone, lagu Twinkle Little Star berhenti. Missed call. Kubuka kunci layar handphone, ‘One missed call. From : Tina Chalisa. Tuesday, 05.10 AM.’ Aku menghembuskan napas panjang.

Ingatanku kembali ke setahun yang lalu.

Tina Chalisa. Bisa dibilang Tina adalah cewek yang menyukai kebebasan. Dia akan melakukan apa saja yang dia suka, dan demi mendapatkan apa saja yang dia inginkan.
“A-ku. Su-ka. Ka-mu”, sebuah suara yang lembut dan manja terdengar di telingaku. Buku yang sedang kubaca sambil tiduran di sofa menjauh karena sebuah tangan dengan jari-jari yang lentik menariknya. Tina di sana, membungkuk tepat di depan wajahku. Setengah tubuhnya yang langsing dan masih memakai seragam sekolah hampir menindih tubuhku.

“Tina…please. Jangan bercanda kayak gitu lagi. Sini, kembalikan bukuku”, kataku sambil menjauhkan tubuhnya dariku. Wajahnya yang mungil dan cantik cemberut, lalu kembali mendekat ke wajahku. Matanya menatap lekat kepadaku. Aku menghela napas dan berkata,
“Kalau p’Gunn melihat ini, dia pasti bakalan salah paham.”
Dengan polosnya dia bertanya,
“Salah paham? Kenapa?”
Tiba-tiba bukuku yang dipegangnya terjatuh. Bibirnya mendekat ke bibirku. Dia lalu menciumku. Aku segera mendorong bahunya,
“Tina…apa yang kau lakukan?”, sambil mengusap bibirku dengan lengan baju seragam.

Tina meletakkan tangannya di dadaku. Sambil tersenyum dia berkata,
“Putus sama p’Gunn bukan masalah untukku.”
Aku hanya menatapnya. Bukan masalah untukmu, tapi masalah buatku. Tina masih terus tersenyum, lalu bibirnya mendekat ke telingaku dan berbisik,
“Hey, Captain. Kamu suka kepadaku, kan?”
Aku terdiam mendengar kata-katanya. Ya. Aku memang menyukainya. Ah, tidak! Tina adalah pacar kakakku, satu-satunya kakak laki-laki yang kumiliki. Tapi kenapa hasrat untuk memilikinya sangat besar? Tina yang berwajah cantik, dengan badannya yang mungil, dengan kulitnya yang putih, dengan kakinya yang jenjang, yang selalu hadir di dalam mimpiku.

Kuulurkan tangan kananku, mengelus rambutnya yang hitam dan panjang. Wajah cantiknya terkejut, bibir mungilnya terbuka sedikit, seakan menggodaku untuk menciumnya. Kenapa? Kenapa aku menginginkannya? Persetan dengan p’Gunn. Kulingkarkan tangan kiriku ke pinggangnya, sementara tangan kananku merengkuh lehernya yang jenjang ke arah wajahku. Aku menciumnya. Mencium Tina, kekasih kakakku.

“Twinkle…twinkle…little star”

Aku tersentak dari lamunanku. Handphoneku berdering dengan ringtone yang sama. Tina meneleponku lagi. Kugeser gambar keylock ke arah gambar answer,
“Hello…”
Terdengar suara yang lembut dan manja di seberang sana, kali ini dengan nada marah,
“Kenapa yang tadi nggak dijawab?”
Aku tersenyum mendengar suaranya yang sama sekali tidak berubah. Masih sama seperti dulu, baik ketika kami belum berpacaran, atau ketika kami berpacaran, bahkan setelah kami berpisah. Aku menjawabnya,
“Aku lagi mikir kenapa tiba-tiba kamu meneleponku. Makanya nggak kejawab deh.”
Suara di sana kemudian berkata dengan nada memerintah,
“Hey…Jemput aku di JET, Ekamai Road. Sekarang juga!”

Aku berjalan ke arah jendela dan membuka lebar-lebar gordynnya,
“Nggak bisa. Aku nggak bisa jemput kamu lagi.”
“Kenapa nggak? Aku nggak ngerti!”, suara Tina mulai meninggi.
Aku menarik napas pelan-pelan sambil menatap ke halaman depan rumah yang masih gelap. Menghadapi Tina harus dengan kesabaran yang amat sangat. Kalau dihadapi dengan marah-marah juga, malah nggak akan selesai. Dengan pelan aku menjawab,
“Kemarin pagi kan, aku masih single. Belum punya pacar, masih bisa jemput kamu di mana aja. Sekarang aku udah nggak single lagi. Aku nggak bisa jemput atau jalan sama kamu, Tina.”

Suara di sana mendengus kesal,
“Masih ngomongin itu lagi? Masih pacaran seminggu lagi? Paling hari Minggu besok kamu putus lagi!”
Aku menghela napas, ingin cepat-cepat mengakhiri pembicaraan ini,
“Aku offline ya?”
Tina di sana malah tertawa kecil,
“Tunggu sebentar. Jangan offline dulu. Aku pengin tau, kayak apa cewek yang kamu kencani sekarang?”
Aku menjawabnya sambil tersenyum mengingat-ingat wajah p’White,
“Dia satu sekolahan. Lebih tua 2 tahun, dia kelas 12.”
Tina masih terus menanyaiku,
“Heeee…a cute one?”

Aku membayangkan p’White yang dibilang cute oleh Tina. Tidak, menurutku p’White tidak cocok dibilang cute. Dia lebih cocok dibilang indah, apalagi kalau dia sedang berkonsentrasi dengan bola basketnya,
“Nggak. Bukan cute, tapi indah. Beautiful one.”
Tina terbahak,
“Kalau dibandingkan sama aku? Dia lebih cantik atau…?”
Aku mendengus kesal mendengar pertanyaannya,
“Aku nggak bisa membandingkan kalian berdua.”
Di sana Tina tertawa makin keras,
“Hahaha…kamu tahu Captain? Itu yang aku suka darimu. Kita keluar bareng Minggu malam besok yah? Palingan kamu single lagi kan, malam itu?”
Aku berjalan kembali dan duduk di tempat tidurku,
“Kenapa sih, kamu nggak balikan lagi aja sama p’Gunn?”
Suaranya berubah menjadi galak,
“Aku paling benci kalau kamu ngomong kayak gitu. Bye!”
Tuuuut…tuuuut…

Aku menghela napas panjang dan membaringkan tubuhku ke tempat tidur. Selalu seperti ini kalau bersama Tina, semaunya dia saja. Sebentar bisa suka, sebentar lagi berubah jadi benci. Ah, aku harus berhenti memikirkan Tina. Sekarang waktunya aku memikirkan p’White. Aku kembali mengingat kata-katanya,
“Oke, kalau begitu…gimana kalau kamu jadi pacarku minggu ini, Captain?”
Saat itu aku terkejut sekali mendengarnya. Kenapa cowok yang populer kayak dia, nggak punya pacar? Malah meminta aku jadi pacarnya. Aku memejamkan mataku. Apakah kali ini aku bakalan jatuh cinta? Entahlah, aku nggak tau apa yang akan terjadi nanti.

Aku memeluk gulingku, dan mengingat-ingat kembali hubungan yang pernah kujalani. Setiap kali aku mulai berkencan dengan seorang cewek di hari Senin, aku selalu mempunyai harapan yang besar. Harapan semoga aku bisa terus bersamanya. Hanya yang terjadi adalah sebaliknya. Selalu saja aku yang mengakhiri sebuah hubungan karena pada akhirnya aku tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapnya. Lalu seperti menjadi sebuah kebiasaan, hal tersebut terus berulang. Hmmm…tujuh hari untuk mencoba memahami perasaan dan hati seseorang. Tujuh hari memang bukan waktu yang lama, tapi buatku itu cukup…setidaknya untuk membuat Tina menjadi lebih tenang dan tidak terus mengejarku.

Aku memandangi tulisan nama p’White di daftar kontak handphoneku. Kupilih menu sms dan mengirim ucapan selamat pagi untuknya. Entah mulai kapan, ini sudah menjadi kebiasaan buatku. Setiap pagi, selama satu minggu, meskipun yang dituju adalah orang yang berbeda tiap minggunya. Aku menge-tap button yes, dan memperhatikan tulisan sending message yang terpampang di layar handphone. Kutaruh handphoneku di bawah bantal, membalikkan badanku dan memutuskan untuk tidur sampai jam 6 nanti. Tiba-tiba,

“Triiing!”

Nada suara untuk sms? Apa p’White langsung membalas sms yang aku kirim? Aku terbangun dan duduk tegak di kasur. Kuraih handphone dari bawah bantal dan kubaca sms masuk yang memang dari p’White, tulisannya,
‘From : P’White at 5.25 am. AKU PALING NGGAK SUKA KALAU HARUS BANGUN SEPAGI INI HANYA KARENA ADA SMS/TELEPON’
Aku ternganga membaca sms darinya.

Aku sama sekali tidak menduga kalau p’White membalas smsku, dengan isi dan tulisan berhuruf besar semua seperti ini. Maksudku, p’White itu nada suaranya lembut, dan selalu tenang kalau bicara. Seingatku juga p’White termasuk orang yang rajin datang latihan pagi, makanya aku tadi berpikiran dia pasti sudah bangun di jam segini. Rasanya, seperti ada yang berbeda antara penampilan luar dengan kelakuannya. Dan aku jadi berpikir, kenapa dia terlihat cute seperti ini?

“I don’t want to be the one..The battles always choose..’Cause inside I realize..That I’m the one confused..”

Breaking The Habitnya Linkin Park berbunyi dari handphoneku. Aku sampai terlonjak sendiri mendengarnya. Kulihat di layar nama p’White seperti berteriak memanggilku, aku segera menge-tap button answer,
“Hello…?”
Di seberang sana langsung terdengar nada suara yang galak,
“Captain. Kamu itu bodoh ya? Ngapain kamu sms aku?”
Aku kaget mendengar nada suaranya. Baru kali ini aku mendengarnya berbicara kayak begini. Oh my, ternyata dia gampang naik darah juga. That was very cute of him. Sambil tertawa kecil aku menjawab,
“Iya, p’White. Aku emang bodoh. Maaf.”
Di sana makin galak suaranya,
“Jangan ketawa kalo lagi minta maaf! Ngirim sms yang bikin aku bangun di jam nanggung kayak gini. Dan sekarang aku nggak bisa tidur lagi. Ayo, tanggung jawab!”
Aku cengar-cengir membayangkan wajahnya yang sedang marah-marah di ujung sana.

Pikiran jahilku muncul dan aku jadi pengin ngerjain p’White,
“Jadi, menurut p’White, aku harus gimana?”
Jawabnya,
“Aku bete tau nggak? Aku cuma pengin nonjok muka kamu sekarang juga!”
God. Kenapa reaksinya cute begini?
“Oh. Ya udah deh, gimana kalo aku ke rumahmu sekarang juga? Biar p’White bisa nonjok muka aku.”
Dia di sana diam cukup lama setelah mendengarkan kata-kataku. Dia pasti jadi tambah marah. Mampus deh, pikirku. Lalu tiba-tiba,
“Captain…”

Aku terkejut karena nada suaranya kembali menjadi lembut dan tenang,
“Ya, p’White.”
“Hari ini kamu harus dateng latihan, oke?”
“Uh…latihan klub? Kenapa?”, tanyaku.
Dia menjawabku dengan suara yang masih lembut,
“Well, kamu itu anggota klub apa? Coba jawab aku!”
Aku menjawabnya dengan nada bertanya,
“Aku…anggota klub basket?”
Nada suaranya kembali menjadi galak,
“Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Aku nggak mau tau, pokoknya kamu nggak boleh bolos. Aku juga mau dateng latihan pagi. Kita tanding one on one. Ini balesan karena kamu bangunin aku tanpa alasan yang jelas, cuma untuk baca sms selamat pagi. Oke? Dadah!”
Tuuuut…tuuuut…

Aku bengong menatap handphoneku. Apa dia bilang tadi? Dadah? Kok cute banget, cowok bilang dadah? Aku bangun dari tempat tidurku dan segera menuju ke kamar mandi. Latihan pagi ya? Dia bakalan datang juga, untuk one on one denganku? Baiklah. Aku akan layani permintaannya. Toh, aku juga nggak bisa tidur lagi.

***

Begitu sampai di sekolah aku langsung menuju lapangan basket. Dari rumah aku sudah memakai t-shirt dan celana basket, jadi aku tidak perlu ke ruang ganti klub dulu. Beberapa anggota klub sudah terlihat berkumpul di pinggir lapangan, dan ada yang sedang bermain three on three juga. Mana p’White? Ah, dia termasuk yang sedang bermain di lapangan. Kalau begini sih, kami nggak bakalan jadi tanding one on one.

Dari pinggir lapangan aku melihat p’White sedang mengambil posisi untuk melempar bola ke ring. Itu dia! Pose elegan dan indah yang selalu dilakukannya ketika hendak melakukan tembakan tiga angka. Sudah lama aku tidak melihat posenya yang seperti itu. Salahku juga sih, jarang datang latihan dan jarang melihat kakak-kakak kelasku bertanding.

“Kachiiiiink…”

Suara bola memasuki ring. Semua yang menonton bertepuk tangan. Permainan basket yang dilakukan p’White memang terlihat indah, sekaligus bertenaga. Meskipun dia melempar bola dengan gerakan elegan, tetap saja bolanya masuk ring dengan kekuatan penuh. Seiring dengan masuknya bola ke ring, tiba-tiba saja dia menarik kedua tangannya dan berteriak,
“YES!!!” sambil berlari mengelilingi lapangan. Sambil menaruh bawaanku di bangku pinggir lapangan aku terus memperhatikannya, mataku hanya tertuju ke arahnya.

“Priiiiiit…”

Suara peluit Mr. Rainer membuatku tersentak. Semua yang ada di lapangan sekarang berbaris rapi di pinggir lapangan, termasuk aku. Di bawah ring aku melihat p’White sedang berbicara dengan Mr. Rainer. Sepertinya Mr. Rainer memuji permainan basket p’White, karena wajahnya terlihat sumringah setelah pembicaraan tersebut. Lalu Mr. Rainer meminta kami, anak kelas 10 untuk berkumpul di lapangan dan melakukan latihan tembakan tiga angka. Masing-masing dari kami harus mencoba limabelas kali lemparan, minimal harus masuk 10 bola.

Giliranku melempar bola tiba. Sebelum melempar bola aku melihat ke pinggir lapangan, tempat yang lain berkumpul menunggu giliran. Mataku menangkap p’White yang sedang serius menatapku. Jujur, tatapan matanya yang tajam membuatku merinding. Aku mencoba berkonsentrasi untuk memasukkan bola ke dalam ring. Yup. Lemparan pertamaku masuk ke dalam ring. Disusul dengan lemparan-lemparan berikutnya yang selalu berhasil.

Tiba-tiba mulai terdengar suara-suara dari arah pinggir lapangan.
“Wow…semua bola Captain selalu masuk ke dalam ring.”
“Padahal dia nggak pernah dateng latihan lho!”
“Enak ya, kalau emang udah punya bakat basket, cuma dateng sekali aja langsung lancar begini. Aku juga mau kayak begitu.”
Siyal kalian semua, aku bisa denger tau! Kalau mau ngomongin aku, jangan keras-keras dong! Aku terus berkonsentrasi untuk memasukkan bolaku yang terakhir.

“Kalian semua, bisa diam nggak?”

Aku tersentak kaget. Suara p’White. Suara yang biasanya lembut dan tenang itu, kali ini terdengar tegas dan galak, dan semua yang ada di pinggir lapangan pun terdiam. Aku tersenyum dan kembali berkonsentrasi kepada bolaku, mengambil posisi untuk melempar, dan

“Kachiiiiiink…”

Great! Semua jatah bola latihanku berhasil kumasukkan ke dalam ring tanpa ada yang gagal. Terdengar suara tepuk tangan dari semua anggota klub basket. Mr. Rainer bertepuk tangan paling keras, di wajahnya tersungging senyum yang paling lebar yang pernah kulihat.

P’White menghampiriku sambil tersenyum lebar,
“Akhirnya kau ikut latihan pagi juga ya! Bagus! Meskipun kita tidak jadi bertanding one on one hari ini, tapi aku puas sekali bisa melihatmu memasukkan 15 bola berturut-turut tanpa gagal.”
Aku hanya tersenyum kecil mendengarnya. Aku melihatnya masih tersenyum, senyum yang membuatku berdebar, senyum yang indah. Aku selalu berpikir kalau p’White terlihat sangat indah saat dia hendak melempar bola ke dalam ring, tapi itu cukup sampai hari ini saja. Karena hari ini akhirnya aku juga menyadari kalau p’White yang tersenyum, terlihat lebih dan sangat indah.

-bersambung-

Have a nice day!

Natsu